“Ya Allah! Limpahkanlah rahmat yang sempurna dan berilah kesejahteraan yang sempurna kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang menjadi sebab terlepasnya sesuatu yang masih mengalami jalan buntu dan terbukanya kesempitan serta didatanginya semua hajat dan diperoleh semua pemberian serta Husnul Khatimah (sempurna akhir hayatnya) dan diturunkan siraman mendung hujan lantaran keagungan baginda. (Dan limpahkanlah rahmat dan salam) kepada keluarga baginda dan sahabat di dalam setiap kerlipan mata dan nafas dengan bilangan semua yang diketahui oleh-Mu, wahai Zat yang menguasai seluruh alam”.
Friday, September 3, 2010
(6)Keris Jarum Sepucuk @ Kambing Kasang tunggal di Maharkan RM1800
Keris ini berLok 5-(Bangsawan)
pamor air emas..
ukuran 16 inci tidak termasuk hulu.
keadaan fizikal masih lg utuh.
sarung dan hulu telah dibuat baru
pamor air emas..
ukuran 16 inci tidak termasuk hulu.
keadaan fizikal masih lg utuh.
sarung dan hulu telah dibuat baru
(5)Keris Melayu Bugis di MAHARkan RM1100 (SOLD)
Keris ini berLok 9
Pamor gigi yu
ukuran 14 setengah inci
sarung dan hulunya telah dibuat baru
sarung diperbuat dari kayu kemuning..
keadaan fizikal bilahnya masih lagi utuh..
Pamor gigi yu
ukuran 14 setengah inci
sarung dan hulunya telah dibuat baru
sarung diperbuat dari kayu kemuning..
keadaan fizikal bilahnya masih lagi utuh..
(2)Keris AntiK Bugis di Maharkan RM 1800 (SOLD)
KERIS ini ber lok 7
pamor air sungai & air emas
keadaan fizikal spt sarung, hulu, dan bilahnya
masih lagi utuh dan asli
tidak diubah-ubah
di ceritakan oleh penyerahnyi..
keris ini diturunkan dari 4 generasi lagi..
ukuran 12 setengah inci
pamor air sungai & air emas
keadaan fizikal spt sarung, hulu, dan bilahnya
masih lagi utuh dan asli
tidak diubah-ubah
di ceritakan oleh penyerahnyi..
keris ini diturunkan dari 4 generasi lagi..
ukuran 12 setengah inci
Fungsi Subilah keris
Adapun fungsi keras itu sendiri adalah :
1. Sebagai senjata, menurut Lord Abberton of Eaton keris sebagai senjata pertama kali dicipta oleh Panji Inukertapati
2. Keris sebagai benda berharga yang diwariskan
3. Keris sebagai lambang identitas pribadi- sebilah keris erat kaitannya dengan identitas seseorang, lihatlah keris jaka piturun dengan para Sultan di Yogyakarta, keris Kyai Setan Kober dengan Arya Penangsang, keris Kyai Pulanggeni dengan Raden Harjuna, tombak Kyai Baru dengan Ki Ageng Mangir, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh negeri ini.
4. Keris sebagai lambang kemapanan hidup> Bagi seorang lelaki masyarakat Jawa, hidupnya dikatakan paripurna/mapan, jika telah memiliki: Wisma/rumah, Wanita/isteri, Turangga/kendaraan, Kukila/hewan piaraan, dan Curiga/keris.
5. Keris sebagai lambang status sosial- Ini tergambar dari ukiran-tangkai keris yang mempunyai wanda/profil, misalnya: samba keplayu, maraseba, mangkurat, yudawinatan, longok, pakubuwanan, pakucumbring dan lainnya, dimana profil tersebut disesuaikan dengan kepribadian dan kedudukan sosial sang pemakai. Begitu pula dari warna pendok kemalon: merah untuk para sentana-minimal para bupati, hijau untuk para mantri, coklat untuk para bekel, hitam untuk para abdi dalem tingkat biasa (mohon dibaiki jika pendapat ini keliru)
6. Keris sebagai tanda jasa/satya lencana- Dalam dunia perkerisan, kita mengenal keris berganja kinatah gajah singa, keris ini merupakan satya lencana yang diberikan kepada para perwira/prajurit Mataram yang telah berjasa menumpas pemberontakan kadipaten pati atas kerajaan Mataram (Sultan Agung).
7. Keris sebagai atribut duta- Sewaktu resepsi pernikahan Pangeran Bernard dengan Putri Juliana dari negeri Belanda, Raja Paku Buwana X (Surakarta) mengutus puteranya G.P.H Suryohamidjojo agar menghadiri resepsi tersebut, maka sang putera diberi izin memakai keris Kanjeng Kyai Pakumpulan.
8. Keris sebagai lambang persahabatan> Pada zaman dahulu, tanda mata yang paling tinggi martabatnya adalah keris, ini dibuktikan dengan istilah “kancing gelung” atau “cundhuk ukel” yaitu pemberian sebilah keris lengkap dari orang tua kepada anak perempuannya yang baru saja menikah, yang pada akhirnya tanggung jawab pemeliharaan keris tersebut dipegang menantu lelaki.
9. Keris sebagai falsafah- Bentuk dhapur dan corak pamor yang beraneka ragam memiliki nilai falsafah, dhapur brojol= penggapaian cita-cita, pamor pedaringan kebak= harapan sukses akan material, dan lain sebagainya.
10. Keris sebagai medium sengkalan(chronogram)- Terkenal istilah sirna ilang kertaning bumi (sirna=0, ilang=0, kerta=4, bumi=1), sengkalan tersebut menggambarkan tahun 1400 saka, begitupula ganja berkinatah gajah singa= gajah singa keris siji= berarti tahun 1558 saka, tahun runtuhnya kadipaten Pati oleh prajurit Mataram.
10. Keris sebagai pelengkap busana- Ini sering dijumpai pada saat resepsi pernikahan umpamanya, sehingga kita dengar istilah disengkelit, dianggar dan lainnya yang kesemuanya ditentukan oleh macam upacara.
11. Keris sebagai medium- Medium=perantara, Keris pusaka dianggap mempunyai kekuatan untuk memperlancar komunikasi dua arah antara alam nyata dengan alam ghaib, fungsi inilah sampai kapanpun akan dianggap paling menarik untuk diperbincangkan.
12. Keris sebagai dekorasi- Umumnya keris yang ditempel ditembok atau media lainnya adalah hanya keris semacam souvenir tanpa kandungan aura/yoni/isi, karena dianggap kurang etis bila menempatkan keris hanya dari sisi estetika saja.
13. Keris sebagai estetika saja.
14. Keris sebagai benda koleksi- Biasanya, bagi para keluarga yang mempunyai banyak keris dari hasil warisan, maka mereka sebagian besar hanya memandang dari keindahan luarnya saja tanpa menghiraukan aspek spiritualnya. Ini berarti sering diantara mereka memperjualbelikan keris pusaka sebagaimana benda koleksi yang lain.
15. Keris sebagai obyek hobby> Kalangan yang menempatkan keris sebagai hobby adalah mereka yang mengumpulkan banyak keris pusaka hanya untuk pemuasan hati semata, tanpa menghiraukan baik tidaknya sebuah pusaka.
16. Keris sebagai sipat kandel / piandel> Sipat kandel adalah: suatu sarana yang membuat pemiliknya lebih percaya diri untuk meraih nasib baik, terlindung, selamat dan maksud lain yang sejenis. Kalangan pecinta keris pusaka semacam ini menjadikannya sebagai “jimat”. Contoh konkretnya adalah keris Jendral Sudirman, Keris Bung Tomo, Keris Bung Karno, serta nama-nama besar lain negeri ini, disamping para beliau adalah para bijak cendekia namun ada sesuatu yang diharapkan dari keris pusaka, terutama pada saat kritis, hal tersebut adalah hal yang wajar sebagaimana kita membutuhkan sesuatu harus menggunakan alat-alat tertentu untuk mempermudah kerja usaha kita.
17. Demikianlah huraian singkat saya tentang fungsi sebilah keris pusaka yang bisa diketengahkan, besar kiranya harapan saya ntuk menerima teguran dan kritik dari para pemerhati keris pusaka demi pertahankan warisan nenek moyang yang bernilai tinggi kepada para generasi muda penerus bangsa.
Sumber: dipetik dari pencinta keris pusaka
1. Sebagai senjata, menurut Lord Abberton of Eaton keris sebagai senjata pertama kali dicipta oleh Panji Inukertapati
2. Keris sebagai benda berharga yang diwariskan
3. Keris sebagai lambang identitas pribadi- sebilah keris erat kaitannya dengan identitas seseorang, lihatlah keris jaka piturun dengan para Sultan di Yogyakarta, keris Kyai Setan Kober dengan Arya Penangsang, keris Kyai Pulanggeni dengan Raden Harjuna, tombak Kyai Baru dengan Ki Ageng Mangir, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh negeri ini.
4. Keris sebagai lambang kemapanan hidup> Bagi seorang lelaki masyarakat Jawa, hidupnya dikatakan paripurna/mapan, jika telah memiliki: Wisma/rumah, Wanita/isteri, Turangga/kendaraan, Kukila/hewan piaraan, dan Curiga/keris.
5. Keris sebagai lambang status sosial- Ini tergambar dari ukiran-tangkai keris yang mempunyai wanda/profil, misalnya: samba keplayu, maraseba, mangkurat, yudawinatan, longok, pakubuwanan, pakucumbring dan lainnya, dimana profil tersebut disesuaikan dengan kepribadian dan kedudukan sosial sang pemakai. Begitu pula dari warna pendok kemalon: merah untuk para sentana-minimal para bupati, hijau untuk para mantri, coklat untuk para bekel, hitam untuk para abdi dalem tingkat biasa (mohon dibaiki jika pendapat ini keliru)
6. Keris sebagai tanda jasa/satya lencana- Dalam dunia perkerisan, kita mengenal keris berganja kinatah gajah singa, keris ini merupakan satya lencana yang diberikan kepada para perwira/prajurit Mataram yang telah berjasa menumpas pemberontakan kadipaten pati atas kerajaan Mataram (Sultan Agung).
7. Keris sebagai atribut duta- Sewaktu resepsi pernikahan Pangeran Bernard dengan Putri Juliana dari negeri Belanda, Raja Paku Buwana X (Surakarta) mengutus puteranya G.P.H Suryohamidjojo agar menghadiri resepsi tersebut, maka sang putera diberi izin memakai keris Kanjeng Kyai Pakumpulan.
8. Keris sebagai lambang persahabatan> Pada zaman dahulu, tanda mata yang paling tinggi martabatnya adalah keris, ini dibuktikan dengan istilah “kancing gelung” atau “cundhuk ukel” yaitu pemberian sebilah keris lengkap dari orang tua kepada anak perempuannya yang baru saja menikah, yang pada akhirnya tanggung jawab pemeliharaan keris tersebut dipegang menantu lelaki.
9. Keris sebagai falsafah- Bentuk dhapur dan corak pamor yang beraneka ragam memiliki nilai falsafah, dhapur brojol= penggapaian cita-cita, pamor pedaringan kebak= harapan sukses akan material, dan lain sebagainya.
10. Keris sebagai medium sengkalan(chronogram)- Terkenal istilah sirna ilang kertaning bumi (sirna=0, ilang=0, kerta=4, bumi=1), sengkalan tersebut menggambarkan tahun 1400 saka, begitupula ganja berkinatah gajah singa= gajah singa keris siji= berarti tahun 1558 saka, tahun runtuhnya kadipaten Pati oleh prajurit Mataram.
10. Keris sebagai pelengkap busana- Ini sering dijumpai pada saat resepsi pernikahan umpamanya, sehingga kita dengar istilah disengkelit, dianggar dan lainnya yang kesemuanya ditentukan oleh macam upacara.
11. Keris sebagai medium- Medium=perantara, Keris pusaka dianggap mempunyai kekuatan untuk memperlancar komunikasi dua arah antara alam nyata dengan alam ghaib, fungsi inilah sampai kapanpun akan dianggap paling menarik untuk diperbincangkan.
12. Keris sebagai dekorasi- Umumnya keris yang ditempel ditembok atau media lainnya adalah hanya keris semacam souvenir tanpa kandungan aura/yoni/isi, karena dianggap kurang etis bila menempatkan keris hanya dari sisi estetika saja.
13. Keris sebagai estetika saja.
14. Keris sebagai benda koleksi- Biasanya, bagi para keluarga yang mempunyai banyak keris dari hasil warisan, maka mereka sebagian besar hanya memandang dari keindahan luarnya saja tanpa menghiraukan aspek spiritualnya. Ini berarti sering diantara mereka memperjualbelikan keris pusaka sebagaimana benda koleksi yang lain.
15. Keris sebagai obyek hobby> Kalangan yang menempatkan keris sebagai hobby adalah mereka yang mengumpulkan banyak keris pusaka hanya untuk pemuasan hati semata, tanpa menghiraukan baik tidaknya sebuah pusaka.
16. Keris sebagai sipat kandel / piandel> Sipat kandel adalah: suatu sarana yang membuat pemiliknya lebih percaya diri untuk meraih nasib baik, terlindung, selamat dan maksud lain yang sejenis. Kalangan pecinta keris pusaka semacam ini menjadikannya sebagai “jimat”. Contoh konkretnya adalah keris Jendral Sudirman, Keris Bung Tomo, Keris Bung Karno, serta nama-nama besar lain negeri ini, disamping para beliau adalah para bijak cendekia namun ada sesuatu yang diharapkan dari keris pusaka, terutama pada saat kritis, hal tersebut adalah hal yang wajar sebagaimana kita membutuhkan sesuatu harus menggunakan alat-alat tertentu untuk mempermudah kerja usaha kita.
17. Demikianlah huraian singkat saya tentang fungsi sebilah keris pusaka yang bisa diketengahkan, besar kiranya harapan saya ntuk menerima teguran dan kritik dari para pemerhati keris pusaka demi pertahankan warisan nenek moyang yang bernilai tinggi kepada para generasi muda penerus bangsa.
Sumber: dipetik dari pencinta keris pusaka
Keris sebetulnya bukanlah monopoli suku Jawa. Selain oleh suku Jawa keris juga banyak digunakan oleh suku lainnya semisal Palembang bahkan pula digunakan oleh bangsa lain seperti di Malaysia, Brunei, dan Filipina. Keris yang digunakan oleh setiap suku bangsa itu tidaklah sama melainkan memiliki ciri khas dan karakter sendiri. Adapun keris yang digunakan suku Jawa setidaknya tersusun dari :
1. Keris minimal terdiri dari 2 bagian : bilah keris yang melambangkan lingga dan ganja yang melambangkan yoni. Lingga dan Yoni dalam falsafah Jawa merupakan lambang kesuburan dan kelestarian.
2. Bilah keris harus selalu condong dan membentuk sudut tertentu terhadap ganja yang melambangkan semakin berisi harus semakin merunduk.
3. Panjang bilah keris antara 33-38 cm, keris luar Jawa bisa mencapai 58 cm bahkan di Filipina bisa mencapai 64 cm.
4. Terbuat harus dari 3 logam yaitu baja, besi, dan pamor atau minimal baja dengan besi. Keris yang dibuat dari bahan selain keduanya tidak digolongkan keris.
1. Keris minimal terdiri dari 2 bagian : bilah keris yang melambangkan lingga dan ganja yang melambangkan yoni. Lingga dan Yoni dalam falsafah Jawa merupakan lambang kesuburan dan kelestarian.
2. Bilah keris harus selalu condong dan membentuk sudut tertentu terhadap ganja yang melambangkan semakin berisi harus semakin merunduk.
3. Panjang bilah keris antara 33-38 cm, keris luar Jawa bisa mencapai 58 cm bahkan di Filipina bisa mencapai 64 cm.
4. Terbuat harus dari 3 logam yaitu baja, besi, dan pamor atau minimal baja dengan besi. Keris yang dibuat dari bahan selain keduanya tidak digolongkan keris.
KERIS
Keris adalah senjata khas...Berdasarkan maklumat-maklumat purbakala.keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9 lagi, tetapi berkemungkinan telah digunakan sebelum masa tersebut lagi.Penggunaan Keris telah tersebar di masyarakat rumpun melayu. Pada masa sekarang, umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Sumatra ,sebahagian kalimantan, sebahagian sulawesi), Malaysia, Brunei, thailang, dan filipina (khusus di daerah Mindanao). Di mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.
Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berlot (bilangan ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbezaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeza.
Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedas.
Tata cara penggunaan keris adalah berbeza disetiap daerah. Di daerahJawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.
Subscribe to:
Posts (Atom)










